Renungan Malam: Cerdas Hati

Renungan malam ini berasal dari sebuah warung tegal di kawasan Tubagus Raya, bukan Aero sayangnya. Dimana saya bertemu dengan seorang dewasa yang mengaku dari Medan, dan telah merantau dari tahun 1988. 5 tahun sebelum saya lahir, cukup lama memang.

Percakapan dimulai dengan bahasan sederhana, dari membahas politik sampai dengan budaya bangsa. Namun ada satu hal menarik dari percakapan tersebut, pada saat beliau memberikan komparasi antara “bermasalah mana, perkelahian dalam kantor atau pencurian motor?”

Agak terkesan ambigu memang, tapi saya tetap mencoba menjawabnya dengan penuh perhatian dan pertimbangan. Sebenarnya, kondisi yang diberikan cukup sepele. Dimana Budi (bukan nama sebenarnya, posisi direktur) sedang memberikan nasihat kepada si Adam (bukan nama sebenarnya, posisi bawahan), dan berakhir dengan perkelahian yang dimulai dari Adam karena tidak setuju dengan nasihat dari Budi. Hal inilah yang menjadi pokok bahasan kami, bukan mengenai topik yang satu lagi.

Perkara kecil dengan dampak yang besar. Begitulah saya menjawabnya. Yang kemudian disambut dengan pertanyaan antusias lainnya dari beliau. Setelah kurang lebih 90 menit kami bercakap, dengan penuh canda tawa serta mendapatkan pandangan baru dari persepsi yang berbeda, akhirnya beliau pun pamit kepada saya.

Setelah kepergian beliau, akhirnya sang pemilik warung mulai berkicau. Ia mengatakan bahwa bapak tersebut telah lama menjadi pencari-sedekah yang berlokasi di daerah Dipati Ukur. Iba rasanya ketika mengetahui bahwa selama 26 tahun ‘berkarir’ di Bandung, pada akhirnya ia menjadi seorang pencari-sedekah ulung. Dari segi bicara maupun pemikirannya sendiri, saya dapat menjamin bahwa beliau termasuk orang yang cerdas diri.

Pada awal pembicaraan, saya sudah bertanya mengenai pekerjaan beliau. Meskipun mendapatkan jawaban yang kurang jelas, tapi beliau mengatakan bahwa ia mengerjakan apapun selama ini. apapun. Lantas saya berpikir, sekiranya alasan apa yang membuat beliau terjebak dalam posisi sekarang? Dan tentunya saya mengaitkan dengan topik yang dia angkat dengan penuh antusias tersebut, tentang perkelahian kantor yang berujung pada pemecatan si Adam.

Meskipun saya tidak mau percaya bahwa si Adam itu adalah ia, tetapi banyak perkataan tersirat yang mengatakan sebaliknya. Hal ini lah yang kemudian menjadi renungan malam hari ini. Bahwasanya, cerdas diri saja tidak cukup. Cerdas hati pun harus selalu dilatih, agar tidak tertatih. Cerdas hati disini adalah kepandaian diri agar dapat mengatur kondisi hati, agar tidak ada Adam selanjutnya lagi. Bertambahlah satu pelajaran pada malam hari ini, semoga berguna di tua nanti.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: