Pangeran Bumi dan Puteri Bulan

Cerita ini tentang Pangeran Bumi dan Puteri Bulan. Pasangan yang tak terpisahkan, konon katanya.

Dahulu sekali, ketika Kerajaan Bimasakti di bentuk, terdapat seorang pangeran yang sangat baik hati. Kedalaman hatinya sendiri tak dapat diukur oleh apapun. Ia sangat sering memberi, dan tak sekalipun ia meminta. Bahkan sampai saat ini. Dibalik kegagahan jubah kebesarannya yang berwarna biru, sang pangeran sangat mendambakan seseorang yang dapat menemaninya, melengkapinya, serta dapat menjadi penerang disaat gelapnya.

Tahun berganti abad, tetapi sang pangeran belum juga menemukan seseorang yang dicarinya selama ini. Dalam sosok gagahnya yang terlihat, diri sang pangeran telah dimakan usia. Lapisan luar sang pangeran telah rapuh, dimakan oleh sang waktu.

Melihat kesungguhan dan kesiapan hati sang pangeran, sang Raja Matahari pun merasa iba. Ia lalu memberikan seseorang yang selama ini telah diidamkan oleh sang pangeran, yaitu sang Puteri Bulan. Sang puteri pun diciptakan melalui sisa kegagahan sang pangeran dimasa lalu, yaitu sisa lapisan luar sang pangeran yang telah rapuh.

Ya! Mungkin inilah contoh pertama dari cinta sejati, yang konon katanya merupakan bagian diri kita sendiri yang telah mati. Ibarat manusia, sang Puteri Bulan merupakan tulang rusuk dari sang Pangeran Bumi. Melengkapi dalam cinta, mencintai dalam cerita.

Berabad-abad lamanya semenjak kejadian tersebut, hubungan antara Puteri Bulan dan Pangeran Bumi pun masih berlangsung. Meskipun begitu, mereka tak ditakdirkan untuk dapat bersatu selama-lamanya oleh sang raja. Hanya saja, hal itu dirasa cukup oleh pasangan tersebut. Mereka tak butuh jarak yang dekat, jika mereka dapat saling mendoakan dalam jauh. Mereka tak butuh dapat bersama selama-lamanya, jika pertemuan singkat mereka dirasa cukup untuk mengobati rindu. Terlebih lagi, mereka tak butuh bersatu, jika dalam pisah pun dapat saling melengkapi.

Retak. Sudah banyak retakan di tubuh pangeran. Tentu saja, Pangeran Bumi telah mulai menginjak masa akhirnya. Hal ini disebabkan oleh kehidupan yang menempati sang Pangeran, yang telah merusaknya dari dalam hanya karena keinginan pribadi semata. Melihat kondisi tersebut, sang Puteri Bulan bukannya menjauhi sang pangeran, ia malah memilih untuk tetap setia menemani.

Seratus tahun berlalu. Kondisi sang pangeran pun kian buruk. Pertahanan tubuhnya telah digerogoti oleh PVC dan semacamnya, yang mengakibatkan kondisi dalam tubuhnya semakin rentan akan penyakit seperti Gempa bumi, Erupsi gunung dan semacamnya. Belum lagi jika membayangkan rambutnya yang dahulu berwarna hijau lebat, sekarang hanya akar yang terlihat. Kegagahan sang pangeran pun sekarang hanyalah menjadi cerita, dan kelak menjadi legenda.

Lalu bagaimana dengan Puteri Bulan? Ia pun secara perlahan mulai menjauh dari sang pangeran. Bukan karena kegagahan sang pangeran yang berkurang, tetapi karena ia tak tega melihat orang yang dicintai nya dalam kondisi seperti ini. Nampaknya, kebaikan sang pangeran telah menjadi bumerang bagi kondisi kesehatannya saat ini. Meskipun begitu, ia masih tetap memberi, dan tak pernah sekali pun ia meminta ataupun menyesali.

Seiring dengan menjauhnya sang puteri, setiap tahun ia pun berdoa. Berdoa agar kehidupan yang menempati asal mula dirinya, tersadar akan kondisi pangeran saat ini. Tersadar akan dampak dari keegoisan mereka sendiri. Tersadar akan posisi mereka yang sebenarnya dalam kerajaan Bimasakti ini. Dan tersadar, agar manusia tetap menjadi manusia. Bukan menjadi malapetaka.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: