Refleksi Diri : Masa Depan

“The future’s not ours, to see”

Sepenggal kata inilah yang mungkin akan menjadi kunci dari tulisan kali ini. Tentang masa depan.

Masa (ma.sa) menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sendiri adalah jangka waktu yg agak lama terjadinya suatu peristiwa penting atau biasa disebut zaman. Masa sendiri ada banyak ragamnya, ada masa lalu dan masa depan. Banyak orang yang telah melihat masa lalu, tetapi banyak pula orang yang beranggapan bisa melihat masa depan.

“Dia tidak punya masa depan”. “Masa depan nya tidak cerah”.

Kurang lebih kedua kalimat itu yang memberikan sentilan untuk refleksi diri kali ini. Sebuah kalimat sederhana yang terlihat dan terdengar sangat menghakimi masa depan seseorang.

Kembali lagi, “The future’s not ours, to see”. Hal ini menegaskan bahwa masa depan itu sendiri bukanlah hal yang dapat kita lihat. Apalagi menghakimi seseorang, khususnya masa depan orang tersebut. Bukan berarti salah, tetapi hal tersebut kurang benar adanya.

Banyak orang yang berpendapat, bahwa orang yang tidak memiliki masa depan adalah orang yang gagal. Orang yang gagal itu sendiri banyak macamnya, drop out dari sekolah, belum berhasil mendapatkan kerja, dan masih banyak lagi. Saya sendiri tidak mengatakan hal itu salah, tetapi menurut saya hal itu belum benar.

Menurut saya sendiri, orang yang gagal atau orang yang tidak memiliki masa depan adalah orang yang mudah menyerahBanyak contoh dari orang-orang yang dulunya dianggap tidak memiliki masa depan, tetapi pada akhirnya mereka lah yang menciptakan masa depan itu sendiri.

Mark Zuckerberg. Bill Gates. Abraham Lincoln. Ludwig Van Beethoven. Thomas Alva Edison.

Mereka berlima merupakan contoh kecil dari sekumpulan orang yang dulunya dianggap gagal. Ya. Saya mengetahui bahwa saya bukan mereka. Tetapi saya ingin menjadi seperti mereka, menjadi aktor diatas panggung perubahan. Bukan penonton yang menikmati perubahan itu.

Inilah saya, seorang pemuda yang tengah berlari untuk menciptakan masa depannya. “Sekali layar terkembang, pantang biduk surut ke pantai“. Hal itulah yang selalu saya pegang dalam kehidupan saya. Hal itulah yang selalu mengalir di dalam darah saya. Sebuah pribahasa Bugis yang berarti pantang menyerah.

Kembali lagi kepada refleksi diri hari ini, “Akan jadi apa saya dimasa depan nanti?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: