Refleksi Diri : Hidup dan Bernafas

“Hidup atau sekedar bernafas?”

Kurang lebih hal itulah yang sedang sering terbayang akhir-akhir ini. Seorang Buya Hamka pernah mengatakan “Jika hidup hanya sekedar hidup, babi di hutan juga hidup. Jika bekerja hanya sekedar bekerja, kera juga bekerja”. Sebuah kalimat yang sangat sederhana, tapi mengandung berjuta makna. Sangat sesuai dengan refleksi diri saat ini, apakah saya benar-benar hidup? ataukah saya hanya sekedar sedang bernafas saja?

Hidup (hi·dup) menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sendiri adalah masih terus ada, bergerak, dan bekerja sebagaimana mestinya. Jika diibaratkan sebuah jam, tentunya jika jam tersebut tidak berfungsi maka akan disebut jam mati. Tapi bagaimana dengan manusia? Apakah jika manusia masih dapat bernafas, makan dan minum, maka manusia tersebut disebut hidup? Atau lebih pantas disebut tidak mati?

Mungkin hal itu kembali kepada arti dan tujuan hidup seseorang. Jika tujuan hidupnya adalah hanyalah untuk bernafas, makan dan minum, maka ia dapat disebut hidup. Tetapi arti kehidupan itu sendiri sebenarnya sangat jauh dari itu. Bahkan tidak sedikit filsuf yang sampai saat ini masih belum menemukan arti dari kehidupan itu.

Jika dilihat secara fisik, banyak orang yang terlihat hidup tetapi sebenarnya hanya sekedar tidak mati. Tumbuhan hidup. Hewan hidup. Bahkan Zombie sekalipun hidup. Sungguh hina diri ini mendapati satu lagi nikmat tuhan yang sering dilupakan. Nikmat hidup.

Tetapi jika manusia sendiri hanya hidup sekedar hidup, bedanya kita dengan babi di hutan apa? Begitu pula dalam bekerja, jika kita bekerja hanya sekedar bekerja, kera kan juga bekerja. Bahkan semut pun bekerja. Dan tentunya jika kita hanya hidup sekedar hidup, bukankah itu berarti kita menyia-nyiakan nikmat tuhan yang bahkan paling sering kita lupakan?

Merujuk kepada kalimat diatas, bahwasanya sebagai manusia, harusnya kita lebih menghargai dan memaknai hidup kita. Karena hidup itu sendiri lebih dari sekedar bernafas, dan tentunya bukan cuma makan dan minum saja. Dan terlebih lagi, hidup itu adalah titipan tuhan. Jadi janganlah kita sia-siakan.

Kembali lagi kepada refleksi diri hari ini, “Apakah saya hidup atau sekedar bernafas?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: