Archive

Monthly Archives: April 2014

We spend so much time living life, yet not enough time thinking about what are we doing alive. Ponder over the meaning of life, the purpose of our existence, who is responsible for our creation and what happens when we leave. If you don’t want to think about where you came from, at least think about where you are going to go. Just read. Read, so you will know what life really means.

Advertisements

Nama saya Muh.Dendy Syafardan. Saya lahir pada tanggal 01 Juni 1993. Saya lahir di salah satu kota berjarak kurang lebih 200 km dari Makassar, yaitu Rappang. Mungkin kebanyakan orang hanya mengetahui kota Pare-pare saja, yaitu kota dimana salah satu mantan presiden kita dilahirkan, bapak Bacharuddin Jusuf Habibie. Hal ini lah yang memotivasi saya dalam mencapai sukses terbesar dalam hidup saya.

Sebelumnya, mari kita samakan jendela pengetahuan mengenai arti dari ‘Sukses’ itu sendiri. Sukses (suk·ses /suksés/) menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah berhasil atau beruntung. Tentunya sukses merupakan suatu hal yang relatif, karena setiap orang memiliki definisi suksesnya masing-masing. Entah kesuksesan dalam karir, pergaulan, maupun kehidupan mereka dalam gambaran yang lebih besar lagi.

Lantas, bagaimana dengan kesuksesan terbesar dalam hidup saya? Banyak kesuksesan yang pernah saya jalani, dan cukup banyak juga kegagalan yang telah menempa saya agar dapat mencapai kesuksesan lainnya. Mungkin banyak orang yang mengatakan bahwa kesuksesan terbesar dalam hidupnya adalah menjadi orang yang sangat kaya, menjadi seorang professor, atau bahkan selalu menjuarai setiap lomba ia ikuti. Hal itu tidak salah, karena pada dasarnya setiap manusia memiliki target sukses yang berbeda-beda.

Hanya saja saya tidak melihat semua itu menjadi sukses terbesar dalam hidup saya, melainkan misi untuk dapat mencapai kesuksesan terbesar dalam hidup saya. Kembali lagi pada bacaan di paragraf pertama, kesuksesan terbesar saya adalah agar dapat menjadi sosok yang inspiratif dan membuat kota kelahiran saya dikenal banyak orang karena saya. Meskipun terdengar sulit, tetapi saya yakin dapat mencapainya.

Menjadi sosok yang inspiratif, hal ini lah yang mungkin membedakan kesuksesan terbesar saya dengan kesuksesan terbesar orang pada umumnya. Hal yang sangat berat untuk dicapai, tetapi sangat menyenangkan jika tercapai. Lalu, mengapa harus menjadi sosok yang inspiratif?

Menurut saya, sosok yang inspiratif adalah sosok yang dapat memberikan ilham atau motivasi kepada semua orang di sekelilingnya, bukan hanya karena harta maupun kuasa yang ia miliki. Dalam buku ‘The 100’ (buku yang menceritakan tentang orang yang paling berpengaruh di dunia sepanjang masa), tidak ada satu nama pun yang terdaftar karena kekayaan ataupun jabatan yang pernah ia miliki. Melainkan karena kemampuan mereka untuk berbagi kepada dunia.

Disinilah saya, menuliskan impian tentang kesuksesan terbesar dalam hidup saya. Dan disinilah saya, berjuang agar dapat mencapai kesuksesan terbesar tersebut. Untuk menjadi sosok yang inspiratif, serta berguna terhadap lingkungan dan membawa kebaikan dalam setiap langkahnya.

Cerita ini tentang Pangeran Bumi dan Puteri Bulan. Pasangan yang tak terpisahkan, konon katanya.

Dahulu sekali, ketika Kerajaan Bimasakti di bentuk, terdapat seorang pangeran yang sangat baik hati. Kedalaman hatinya sendiri tak dapat diukur oleh apapun. Ia sangat sering memberi, dan tak sekalipun ia meminta. Bahkan sampai saat ini. Dibalik kegagahan jubah kebesarannya yang berwarna biru, sang pangeran sangat mendambakan seseorang yang dapat menemaninya, melengkapinya, serta dapat menjadi penerang disaat gelapnya.

Tahun berganti abad, tetapi sang pangeran belum juga menemukan seseorang yang dicarinya selama ini. Dalam sosok gagahnya yang terlihat, diri sang pangeran telah dimakan usia. Lapisan luar sang pangeran telah rapuh, dimakan oleh sang waktu.

Melihat kesungguhan dan kesiapan hati sang pangeran, sang Raja Matahari pun merasa iba. Ia lalu memberikan seseorang yang selama ini telah diidamkan oleh sang pangeran, yaitu sang Puteri Bulan. Sang puteri pun diciptakan melalui sisa kegagahan sang pangeran dimasa lalu, yaitu sisa lapisan luar sang pangeran yang telah rapuh.

Ya! Mungkin inilah contoh pertama dari cinta sejati, yang konon katanya merupakan bagian diri kita sendiri yang telah mati. Ibarat manusia, sang Puteri Bulan merupakan tulang rusuk dari sang Pangeran Bumi. Melengkapi dalam cinta, mencintai dalam cerita.

Berabad-abad lamanya semenjak kejadian tersebut, hubungan antara Puteri Bulan dan Pangeran Bumi pun masih berlangsung. Meskipun begitu, mereka tak ditakdirkan untuk dapat bersatu selama-lamanya oleh sang raja. Hanya saja, hal itu dirasa cukup oleh pasangan tersebut. Mereka tak butuh jarak yang dekat, jika mereka dapat saling mendoakan dalam jauh. Mereka tak butuh dapat bersama selama-lamanya, jika pertemuan singkat mereka dirasa cukup untuk mengobati rindu. Terlebih lagi, mereka tak butuh bersatu, jika dalam pisah pun dapat saling melengkapi.

Retak. Sudah banyak retakan di tubuh pangeran. Tentu saja, Pangeran Bumi telah mulai menginjak masa akhirnya. Hal ini disebabkan oleh kehidupan yang menempati sang Pangeran, yang telah merusaknya dari dalam hanya karena keinginan pribadi semata. Melihat kondisi tersebut, sang Puteri Bulan bukannya menjauhi sang pangeran, ia malah memilih untuk tetap setia menemani.

Seratus tahun berlalu. Kondisi sang pangeran pun kian buruk. Pertahanan tubuhnya telah digerogoti oleh PVC dan semacamnya, yang mengakibatkan kondisi dalam tubuhnya semakin rentan akan penyakit seperti Gempa bumi, Erupsi gunung dan semacamnya. Belum lagi jika membayangkan rambutnya yang dahulu berwarna hijau lebat, sekarang hanya akar yang terlihat. Kegagahan sang pangeran pun sekarang hanyalah menjadi cerita, dan kelak menjadi legenda.

Lalu bagaimana dengan Puteri Bulan? Ia pun secara perlahan mulai menjauh dari sang pangeran. Bukan karena kegagahan sang pangeran yang berkurang, tetapi karena ia tak tega melihat orang yang dicintai nya dalam kondisi seperti ini. Nampaknya, kebaikan sang pangeran telah menjadi bumerang bagi kondisi kesehatannya saat ini. Meskipun begitu, ia masih tetap memberi, dan tak pernah sekali pun ia meminta ataupun menyesali.

Seiring dengan menjauhnya sang puteri, setiap tahun ia pun berdoa. Berdoa agar kehidupan yang menempati asal mula dirinya, tersadar akan kondisi pangeran saat ini. Tersadar akan dampak dari keegoisan mereka sendiri. Tersadar akan posisi mereka yang sebenarnya dalam kerajaan Bimasakti ini. Dan tersadar, agar manusia tetap menjadi manusia. Bukan menjadi malapetaka.

I don’t know if you already watched this Video or not. And honestly I don’t care. I just want you to know that somewhere out there, there are some people that actually fulfill the requirements for this job. Mom. By seeing the requirements below, I hope that in the near future I could help my Future Wife to doing her job. Because I realize, that by being a Mother is definitely a Worlds Toughest Job.

The requirements sounded nothing short of brutal:
• Standing up almost all the time
• Constantly exerting yourself
• Working from 135 to unlimited hours per week
• Degrees in medicine, finance and culinary arts necessary
• No vacations
• The work load goes up on Thanksgiving, Christmas, New Year’s and other holidays
• No time to sleep
• Salary = $0

“The future’s not ours, to see”

Sepenggal kata inilah yang mungkin akan menjadi kunci dari tulisan kali ini. Tentang masa depan.

Masa (ma.sa) menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sendiri adalah jangka waktu yg agak lama terjadinya suatu peristiwa penting atau biasa disebut zaman. Masa sendiri ada banyak ragamnya, ada masa lalu dan masa depan. Banyak orang yang telah melihat masa lalu, tetapi banyak pula orang yang beranggapan bisa melihat masa depan.

“Dia tidak punya masa depan”. “Masa depan nya tidak cerah”.

Kurang lebih kedua kalimat itu yang memberikan sentilan untuk refleksi diri kali ini. Sebuah kalimat sederhana yang terlihat dan terdengar sangat menghakimi masa depan seseorang.

Kembali lagi, “The future’s not ours, to see”. Hal ini menegaskan bahwa masa depan itu sendiri bukanlah hal yang dapat kita lihat. Apalagi menghakimi seseorang, khususnya masa depan orang tersebut. Bukan berarti salah, tetapi hal tersebut kurang benar adanya.

Banyak orang yang berpendapat, bahwa orang yang tidak memiliki masa depan adalah orang yang gagal. Orang yang gagal itu sendiri banyak macamnya, drop out dari sekolah, belum berhasil mendapatkan kerja, dan masih banyak lagi. Saya sendiri tidak mengatakan hal itu salah, tetapi menurut saya hal itu belum benar.

Menurut saya sendiri, orang yang gagal atau orang yang tidak memiliki masa depan adalah orang yang mudah menyerahBanyak contoh dari orang-orang yang dulunya dianggap tidak memiliki masa depan, tetapi pada akhirnya mereka lah yang menciptakan masa depan itu sendiri.

Mark Zuckerberg. Bill Gates. Abraham Lincoln. Ludwig Van Beethoven. Thomas Alva Edison.

Mereka berlima merupakan contoh kecil dari sekumpulan orang yang dulunya dianggap gagal. Ya. Saya mengetahui bahwa saya bukan mereka. Tetapi saya ingin menjadi seperti mereka, menjadi aktor diatas panggung perubahan. Bukan penonton yang menikmati perubahan itu.

Inilah saya, seorang pemuda yang tengah berlari untuk menciptakan masa depannya. “Sekali layar terkembang, pantang biduk surut ke pantai“. Hal itulah yang selalu saya pegang dalam kehidupan saya. Hal itulah yang selalu mengalir di dalam darah saya. Sebuah pribahasa Bugis yang berarti pantang menyerah.

Kembali lagi kepada refleksi diri hari ini, “Akan jadi apa saya dimasa depan nanti?

“Dapatkah saya bertahan sehari tanpa internet?”

Tiba-tiba terpikir tentang satu topik dari suatu Blog Competition tentang Internet. Sehari tanpa Internet. Topik yang sangat menarik jika diangkat, melihat fungsi internet sekarang bukan hanya sebagai sarana pelarian dunia nyata saja. Melainkan lebih jauh dari itu.

Internet sendiri merupakan akronim dari Inter dan Network, yang jika diterjemahkan secara harfiah akan menjadi “Antar Jaringan”. Hal itu menjelaskan fungsi dari internet itu sendiri, yaitu menghubungkan para user internet satu dengan yang lain, yang di dalamnya terdapat berbagai macam sumber informasi dan ilmu pengetahuan.

Sebelum kembali membahas dampak yang akan terjadi jika tidak ada Internet, ada baiknya jika melihat berbagai dampak Internet dari beberapa aspek terlebih dahulu.

Dampak Positif

  • Sosial; memperpendek jarah komunikasi dan melakukan efektifitas dalam pengerjaannya
  • Pendidikan; mempermudah  akses informasi tiada batas pada pengguna
  • Bisnis; mempermudah penyebaran informasi tentang bisnis terkait

Dampak Negatif

  • Sosial; ajang pamer serta kurangnya privacy terhadap informasi diri sendiri
  • Pendidikan; pemberian informasi yang salah dan tidak akurat yang menjerumuskan
  • Bisnis; penipuan yang mengatasnamakan bisnis terkait

Jika melihat berbagai dampak diatas, dapat dilihat bahwa Internet sendiri telah masuk kedalam berbagai fungsi kehidupan secara mendalam, khususnya di fungsi sosial. Lebih dari itu, Internet sekarang telah menjadi kebutuhan. Ibaratnya, makan dan minum telah menjawab kebutuhan pribadi kita, dan Internet lah yang akan menjawab kebutuhan sosial kita.

Pertumbuhan pengguna internet di Indonesia pun terjadi dengan sangat pesat. Dari 1.9 juta pengguna pada tahun 2000, menjadi 107 juta hanya dalam waktu 14 tahun belakangan ini. Dan di asumsikan bahwa nilai tersebut akan terus bertambah dari tahun ke tahun.

Kembali ke pertanyaan mendasar, “Dapatkah saya bertahan sehari tanpa internet?”. Jawabannya adalah, Ya. Saya dapat bertahan. Meskipun begitu, akan banyak informasi yang pastinya akan saya lewatkan, khususnya untuk kehidupan sosial. Manusia adalah makhluk sosial. Begitulah kata seorang filsuf Yunani kuno, Aristoteles. Dan hal itulah yang dapat menjelaskan alasan kenapa Internet menjadi ‘candu’ bagi manusia sekarang, termasuk saya sendiri.

Twitter sendiri merupakan contoh yang paling sesuai untuk melihat tingkat ‘kecanduan’ manusia terhadap Internet. Dimana dalam suatu riset pernah disebutkan bahwa, in average para pengguna twitter akan berkicau minimal 3 kali perharinya. Angka yang kecil sebagai individu, tetapi jika di jumlahkan dengan pengguna aktif twitter yang berjumlah 200jt pada tahun 2013, maka akan terdapat minimal 600juta informasi perharinya hanya dalam satu website saja.

Sebagai penutup, ada baiknya jika kita mulai mempelajari media Internet tersebut secara bijak dan lebih bertanggung jawab. Karena disamping berbagai dampak positif yang akan kita terima, terdapat pula dampak negatif yang akan kita rasakan, secara langsung maupun tidak langsung. Mulailah memanfaatkan Internet sebaik-baiknya, karena Internet is a resource for your future.

“Hidup atau sekedar bernafas?”

Kurang lebih hal itulah yang sedang sering terbayang akhir-akhir ini. Seorang Buya Hamka pernah mengatakan “Jika hidup hanya sekedar hidup, babi di hutan juga hidup. Jika bekerja hanya sekedar bekerja, kera juga bekerja”. Sebuah kalimat yang sangat sederhana, tapi mengandung berjuta makna. Sangat sesuai dengan refleksi diri saat ini, apakah saya benar-benar hidup? ataukah saya hanya sekedar sedang bernafas saja?

Hidup (hi·dup) menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sendiri adalah masih terus ada, bergerak, dan bekerja sebagaimana mestinya. Jika diibaratkan sebuah jam, tentunya jika jam tersebut tidak berfungsi maka akan disebut jam mati. Tapi bagaimana dengan manusia? Apakah jika manusia masih dapat bernafas, makan dan minum, maka manusia tersebut disebut hidup? Atau lebih pantas disebut tidak mati?

Mungkin hal itu kembali kepada arti dan tujuan hidup seseorang. Jika tujuan hidupnya adalah hanyalah untuk bernafas, makan dan minum, maka ia dapat disebut hidup. Tetapi arti kehidupan itu sendiri sebenarnya sangat jauh dari itu. Bahkan tidak sedikit filsuf yang sampai saat ini masih belum menemukan arti dari kehidupan itu.

Jika dilihat secara fisik, banyak orang yang terlihat hidup tetapi sebenarnya hanya sekedar tidak mati. Tumbuhan hidup. Hewan hidup. Bahkan Zombie sekalipun hidup. Sungguh hina diri ini mendapati satu lagi nikmat tuhan yang sering dilupakan. Nikmat hidup.

Tetapi jika manusia sendiri hanya hidup sekedar hidup, bedanya kita dengan babi di hutan apa? Begitu pula dalam bekerja, jika kita bekerja hanya sekedar bekerja, kera kan juga bekerja. Bahkan semut pun bekerja. Dan tentunya jika kita hanya hidup sekedar hidup, bukankah itu berarti kita menyia-nyiakan nikmat tuhan yang bahkan paling sering kita lupakan?

Merujuk kepada kalimat diatas, bahwasanya sebagai manusia, harusnya kita lebih menghargai dan memaknai hidup kita. Karena hidup itu sendiri lebih dari sekedar bernafas, dan tentunya bukan cuma makan dan minum saja. Dan terlebih lagi, hidup itu adalah titipan tuhan. Jadi janganlah kita sia-siakan.

Kembali lagi kepada refleksi diri hari ini, “Apakah saya hidup atau sekedar bernafas?