19 Februari 2013

19 Februari 2013

Hari selasa, hari yang kurang begitu berharga jika dilewatkan. Dengan aktifitas yang biasa saja, tapi dengan 2 janji yang luar biasa. Pertama adalah janji temu pada pukul 09.00 pagi guna membahas sebuah calon bisnis yang diberi nama “Salib” (penyebutan dari Sajadah Lipat) dan janji temu pada pukul 11.00 pagi guna membahas pertemuan lanjutan dari SBM Club. Meskipun badan sedang dalam kondisi kurang fit, tetapi janji adalah sebuah hutang dan harus kita lunasi atau tepati. Mudahnya saja, coba kita memposisikan diri kita sebagai mereka yang tepat waktu dan hadir pada pertemuan tersebut. Sedangkan teman-teman kita yang juga ikut berjanji malah terlambat atau bahkan tidak datang sama sekali. Tentunya akan ada perasaan kurang percaya lagi kepada mereka. Untuk itulah, ada baiknya jika kita tidak melanggar janji yang telah kita buat. Gunakan konsep important dan urgent guna memilih janji mana yang akan kita hadiri tersebut.

Membahas tentang important dan urgent tersebut, akan mengarahkan kita kepada sebuah kalimat yaitu prioritas. Prioritas itu banyak contohnya, bukan hanya Bank Bri Prioritas. Setiap orang juga tentunya memiliki prioritas tertentu dalam mengambil keputusan, ataupun dalam menjalani sesuatu. Tidak ada yang salah dalam mengambil prioritas tersebut. Yang salah adalah ketika kita menjadikan sesuatu hal menjadi prioritas kita, tetapi kebalikannya. Kita tidak menjadi prioritas hal tersebut. Contoh kecilnya, adalah hubungan antara customer dan sebuah warnet. Sebagai customer, tentunya kita berharap warnet tersebut memberikan kita fasilitas yang terbaik khususnya kecepatan internetnya. Walaupun membayar lebih dari warnet pada umumnya, tetapi kita tetap loyal kepada warnet tersebut. Yang menjadi masalah adalah ketika ekspektasi kita terlalu berlebihan kepada warnet tersebut tetapi apa yang kita dapatkan tidak sebanding. Tentunya loyalitas kita akan terganggu akibat hal tersebut. Ini juga merupakan salah satu dari 6 common mistakes yang selalu terjadi, yaitu overconfidence.

Hal tersebut juga sering terjadi kepada saya, baik sebagai customer maupun individu. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah saya yang salah karena terlalu berekspektasi tinggi terhadap warnet tersebut? ataukah warnet tersebut yang salah karena tidak berhasil mengimbangi ekspektasi customernya? Satu hal yang saya dapat dan ingin pelajari dari hal seperti ini adalah jangan pernah berekspektasi tinggi terhadap sesuatu ataupun seseorang karena jika ekspektasi kita terlalu tinggi dan mereka tidak dapat mengimbanginya, akan sangat tidak enak jadinya. Silahkan dicoba sendiri jika tidak percaya. Sekiranya sekian cerita saya pada hari ini, ambil yang baik dan buang yang buruknya. Terima kasih

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: