Sedikit bercerita, hari ini adalah hari pertama dari masa orientasi Management Trainee dari Garuda Indonesia, dan beruntungnya, saya merupakan salah satu diantaranya. Hari ini juga hari pertama saya meninggalkan kota Bandung, kota dengan banyak cerita didalamnya, setidaknya bagi saya. Kembali ke topik pembahasan, hari ini dimulai dengan sangat baik. Bangun jam 5 pagi, kemudian dilanjutkan dengan shalat shubuh lalu kembali melakukan aktifitas sebelumnya, tidur. Maklum, jarak kostan saya dengan lokasi pelatihan hanya berjarak 20-40 Meter saja. Sangat dekat tentunya.

Singkat cerita, hari ini kami mendapatkan 4 Materi besar, baik Garuda Indonesia secara mendalam, maupun dunia aviasi secara luas. Tidak berhenti disitu, kami juga mendapatkan informasi terkait tentang situasi penerbangan saat ini serta proyeksi situasi penerbangan pada tahun 2015 nanti. Cukup menarik bagi saya, meskipun ini kali pertama saya belajar tentang dunia aviasi secara mendalam. Sedikit informasi tambahan, lamanya pelatihan hanya dari pukul 8.00 WIB sampai dengan pukul 16.30 WIB.

Setelah menjalani proses orientasi hari pertama, kami pun diperbolehkan untuk kembali ke kostan masing-masing. Selain untuk beristirahat, tentunya untuk mengerjakan beberapa tugas yang telah diamanahkan kepada kami. Tentunya, sebelum mengerjakan tugas tersebut, kami (merujuk kepada 6 teman dekat saat ini, akan bertambah seiring waktu) menyempatkan diri untuk berolahraga terlebih dahulu. Selain bertujuan untuk menjaga kondisi tubuh, tentunya kami juga berharap dapat bertemu dengan flight attendant yang tidak dapat diragukan lagi kecerdasan serta penampilan fisiknya. Alhamdulillah, Allah mendengar doa kami. Bukan hanya bertemu dengan satu atau sepuluh flight attendant, kami malah bertemu dengan lebih dari dua puluh flight attendant yang sedang melakukan senam rutin pada hari Senin dan Kamis. Subhanallah.

Cukup banyak moment menarik pada hari ini, dimulai dari suksesnya puasa pertama pada hari pertama orientasi di hari pertama menginjak usia yang ke-dua puluh satu, hingga memberanikan dan mengajukan diri untuk menjadi Ketua Angkatan Management Trainee Batch 7 untuk satu minggu kedepan. Sayang, untuk hal yang kedua, saya kurang inisiatif dan kurang cepat mengangkat tangan sehingga sang fasilitator lebih melihat kandidat di meja lain sehingga ialah yang terpilih menjadi Ketua Angkatan selama satu minggu kedepan. Well, better luck next time!

Pelajaran yang dapat saya petik pada hari ini adalah, perbanyaklah inisiatif agar tidak menjadi pasif. Karena jika saya dapat mengulang hari dan mengambil pelajaran pada hari ini, besar kemungkinan saya lah yang  sekarang sedang menjadi connector antara pihak Garuda Indonesia dengan para Management Trainee lainnya. Sekian cerita malam hari ini, dan sampai bertemu di cerita menarik lainnya esok hari!

Ps: Mengikuti permintaan teman sekamar saya yang ingin disebutkan namanya dalam tulisan ini, Ia adalah teman semasa kuliah saya yang kemudian bersama menjadi Management Trainee Batch 7 di Garuda Indonesia kali ini. Dan dia bernama Benito Reyhan.

Advertisements

Renungan malam ini berasal dari sebuah warung tegal di kawasan Tubagus Raya, bukan Aero sayangnya. Dimana saya bertemu dengan seorang dewasa yang mengaku dari Medan, dan telah merantau dari tahun 1988. 5 tahun sebelum saya lahir, cukup lama memang.

Percakapan dimulai dengan bahasan sederhana, dari membahas politik sampai dengan budaya bangsa. Namun ada satu hal menarik dari percakapan tersebut, pada saat beliau memberikan komparasi antara “bermasalah mana, perkelahian dalam kantor atau pencurian motor?”

Agak terkesan ambigu memang, tapi saya tetap mencoba menjawabnya dengan penuh perhatian dan pertimbangan. Sebenarnya, kondisi yang diberikan cukup sepele. Dimana Budi (bukan nama sebenarnya, posisi direktur) sedang memberikan nasihat kepada si Adam (bukan nama sebenarnya, posisi bawahan), dan berakhir dengan perkelahian yang dimulai dari Adam karena tidak setuju dengan nasihat dari Budi. Hal inilah yang menjadi pokok bahasan kami, bukan mengenai topik yang satu lagi.

Perkara kecil dengan dampak yang besar. Begitulah saya menjawabnya. Yang kemudian disambut dengan pertanyaan antusias lainnya dari beliau. Setelah kurang lebih 90 menit kami bercakap, dengan penuh canda tawa serta mendapatkan pandangan baru dari persepsi yang berbeda, akhirnya beliau pun pamit kepada saya.

Setelah kepergian beliau, akhirnya sang pemilik warung mulai berkicau. Ia mengatakan bahwa bapak tersebut telah lama menjadi pencari-sedekah yang berlokasi di daerah Dipati Ukur. Iba rasanya ketika mengetahui bahwa selama 26 tahun ‘berkarir’ di Bandung, pada akhirnya ia menjadi seorang pencari-sedekah ulung. Dari segi bicara maupun pemikirannya sendiri, saya dapat menjamin bahwa beliau termasuk orang yang cerdas diri.

Pada awal pembicaraan, saya sudah bertanya mengenai pekerjaan beliau. Meskipun mendapatkan jawaban yang kurang jelas, tapi beliau mengatakan bahwa ia mengerjakan apapun selama ini. apapun. Lantas saya berpikir, sekiranya alasan apa yang membuat beliau terjebak dalam posisi sekarang? Dan tentunya saya mengaitkan dengan topik yang dia angkat dengan penuh antusias tersebut, tentang perkelahian kantor yang berujung pada pemecatan si Adam.

Meskipun saya tidak mau percaya bahwa si Adam itu adalah ia, tetapi banyak perkataan tersirat yang mengatakan sebaliknya. Hal ini lah yang kemudian menjadi renungan malam hari ini. Bahwasanya, cerdas diri saja tidak cukup. Cerdas hati pun harus selalu dilatih, agar tidak tertatih. Cerdas hati disini adalah kepandaian diri agar dapat mengatur kondisi hati, agar tidak ada Adam selanjutnya lagi. Bertambahlah satu pelajaran pada malam hari ini, semoga berguna di tua nanti.

We spend so much time living life, yet not enough time thinking about what are we doing alive. Ponder over the meaning of life, the purpose of our existence, who is responsible for our creation and what happens when we leave. If you don’t want to think about where you came from, at least think about where you are going to go. Just read. Read, so you will know what life really means.

Nama saya Muh.Dendy Syafardan. Saya lahir pada tanggal 01 Juni 1993. Saya lahir di salah satu kota berjarak kurang lebih 200 km dari Makassar, yaitu Rappang. Mungkin kebanyakan orang hanya mengetahui kota Pare-pare saja, yaitu kota dimana salah satu mantan presiden kita dilahirkan, bapak Bacharuddin Jusuf Habibie. Hal ini lah yang memotivasi saya dalam mencapai sukses terbesar dalam hidup saya.

Sebelumnya, mari kita samakan jendela pengetahuan mengenai arti dari ‘Sukses’ itu sendiri. Sukses (suk·ses /suksés/) menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah berhasil atau beruntung. Tentunya sukses merupakan suatu hal yang relatif, karena setiap orang memiliki definisi suksesnya masing-masing. Entah kesuksesan dalam karir, pergaulan, maupun kehidupan mereka dalam gambaran yang lebih besar lagi.

Lantas, bagaimana dengan kesuksesan terbesar dalam hidup saya? Banyak kesuksesan yang pernah saya jalani, dan cukup banyak juga kegagalan yang telah menempa saya agar dapat mencapai kesuksesan lainnya. Mungkin banyak orang yang mengatakan bahwa kesuksesan terbesar dalam hidupnya adalah menjadi orang yang sangat kaya, menjadi seorang professor, atau bahkan selalu menjuarai setiap lomba ia ikuti. Hal itu tidak salah, karena pada dasarnya setiap manusia memiliki target sukses yang berbeda-beda.

Hanya saja saya tidak melihat semua itu menjadi sukses terbesar dalam hidup saya, melainkan misi untuk dapat mencapai kesuksesan terbesar dalam hidup saya. Kembali lagi pada bacaan di paragraf pertama, kesuksesan terbesar saya adalah agar dapat menjadi sosok yang inspiratif dan membuat kota kelahiran saya dikenal banyak orang karena saya. Meskipun terdengar sulit, tetapi saya yakin dapat mencapainya.

Menjadi sosok yang inspiratif, hal ini lah yang mungkin membedakan kesuksesan terbesar saya dengan kesuksesan terbesar orang pada umumnya. Hal yang sangat berat untuk dicapai, tetapi sangat menyenangkan jika tercapai. Lalu, mengapa harus menjadi sosok yang inspiratif?

Menurut saya, sosok yang inspiratif adalah sosok yang dapat memberikan ilham atau motivasi kepada semua orang di sekelilingnya, bukan hanya karena harta maupun kuasa yang ia miliki. Dalam buku ‘The 100’ (buku yang menceritakan tentang orang yang paling berpengaruh di dunia sepanjang masa), tidak ada satu nama pun yang terdaftar karena kekayaan ataupun jabatan yang pernah ia miliki. Melainkan karena kemampuan mereka untuk berbagi kepada dunia.

Disinilah saya, menuliskan impian tentang kesuksesan terbesar dalam hidup saya. Dan disinilah saya, berjuang agar dapat mencapai kesuksesan terbesar tersebut. Untuk menjadi sosok yang inspiratif, serta berguna terhadap lingkungan dan membawa kebaikan dalam setiap langkahnya.

Cerita ini tentang Pangeran Bumi dan Puteri Bulan. Pasangan yang tak terpisahkan, konon katanya.

Dahulu sekali, ketika Kerajaan Bimasakti di bentuk, terdapat seorang pangeran yang sangat baik hati. Kedalaman hatinya sendiri tak dapat diukur oleh apapun. Ia sangat sering memberi, dan tak sekalipun ia meminta. Bahkan sampai saat ini. Dibalik kegagahan jubah kebesarannya yang berwarna biru, sang pangeran sangat mendambakan seseorang yang dapat menemaninya, melengkapinya, serta dapat menjadi penerang disaat gelapnya.

Tahun berganti abad, tetapi sang pangeran belum juga menemukan seseorang yang dicarinya selama ini. Dalam sosok gagahnya yang terlihat, diri sang pangeran telah dimakan usia. Lapisan luar sang pangeran telah rapuh, dimakan oleh sang waktu.

Melihat kesungguhan dan kesiapan hati sang pangeran, sang Raja Matahari pun merasa iba. Ia lalu memberikan seseorang yang selama ini telah diidamkan oleh sang pangeran, yaitu sang Puteri Bulan. Sang puteri pun diciptakan melalui sisa kegagahan sang pangeran dimasa lalu, yaitu sisa lapisan luar sang pangeran yang telah rapuh.

Ya! Mungkin inilah contoh pertama dari cinta sejati, yang konon katanya merupakan bagian diri kita sendiri yang telah mati. Ibarat manusia, sang Puteri Bulan merupakan tulang rusuk dari sang Pangeran Bumi. Melengkapi dalam cinta, mencintai dalam cerita.

Berabad-abad lamanya semenjak kejadian tersebut, hubungan antara Puteri Bulan dan Pangeran Bumi pun masih berlangsung. Meskipun begitu, mereka tak ditakdirkan untuk dapat bersatu selama-lamanya oleh sang raja. Hanya saja, hal itu dirasa cukup oleh pasangan tersebut. Mereka tak butuh jarak yang dekat, jika mereka dapat saling mendoakan dalam jauh. Mereka tak butuh dapat bersama selama-lamanya, jika pertemuan singkat mereka dirasa cukup untuk mengobati rindu. Terlebih lagi, mereka tak butuh bersatu, jika dalam pisah pun dapat saling melengkapi.

Retak. Sudah banyak retakan di tubuh pangeran. Tentu saja, Pangeran Bumi telah mulai menginjak masa akhirnya. Hal ini disebabkan oleh kehidupan yang menempati sang Pangeran, yang telah merusaknya dari dalam hanya karena keinginan pribadi semata. Melihat kondisi tersebut, sang Puteri Bulan bukannya menjauhi sang pangeran, ia malah memilih untuk tetap setia menemani.

Seratus tahun berlalu. Kondisi sang pangeran pun kian buruk. Pertahanan tubuhnya telah digerogoti oleh PVC dan semacamnya, yang mengakibatkan kondisi dalam tubuhnya semakin rentan akan penyakit seperti Gempa bumi, Erupsi gunung dan semacamnya. Belum lagi jika membayangkan rambutnya yang dahulu berwarna hijau lebat, sekarang hanya akar yang terlihat. Kegagahan sang pangeran pun sekarang hanyalah menjadi cerita, dan kelak menjadi legenda.

Lalu bagaimana dengan Puteri Bulan? Ia pun secara perlahan mulai menjauh dari sang pangeran. Bukan karena kegagahan sang pangeran yang berkurang, tetapi karena ia tak tega melihat orang yang dicintai nya dalam kondisi seperti ini. Nampaknya, kebaikan sang pangeran telah menjadi bumerang bagi kondisi kesehatannya saat ini. Meskipun begitu, ia masih tetap memberi, dan tak pernah sekali pun ia meminta ataupun menyesali.

Seiring dengan menjauhnya sang puteri, setiap tahun ia pun berdoa. Berdoa agar kehidupan yang menempati asal mula dirinya, tersadar akan kondisi pangeran saat ini. Tersadar akan dampak dari keegoisan mereka sendiri. Tersadar akan posisi mereka yang sebenarnya dalam kerajaan Bimasakti ini. Dan tersadar, agar manusia tetap menjadi manusia. Bukan menjadi malapetaka.

I don’t know if you already watched this Video or not. And honestly I don’t care. I just want you to know that somewhere out there, there are some people that actually fulfill the requirements for this job. Mom. By seeing the requirements below, I hope that in the near future I could help my Future Wife to doing her job. Because I realize, that by being a Mother is definitely a Worlds Toughest Job.

The requirements sounded nothing short of brutal:
• Standing up almost all the time
• Constantly exerting yourself
• Working from 135 to unlimited hours per week
• Degrees in medicine, finance and culinary arts necessary
• No vacations
• The work load goes up on Thanksgiving, Christmas, New Year’s and other holidays
• No time to sleep
• Salary = $0

“The future’s not ours, to see”

Sepenggal kata inilah yang mungkin akan menjadi kunci dari tulisan kali ini. Tentang masa depan.

Masa (ma.sa) menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sendiri adalah jangka waktu yg agak lama terjadinya suatu peristiwa penting atau biasa disebut zaman. Masa sendiri ada banyak ragamnya, ada masa lalu dan masa depan. Banyak orang yang telah melihat masa lalu, tetapi banyak pula orang yang beranggapan bisa melihat masa depan.

“Dia tidak punya masa depan”. “Masa depan nya tidak cerah”.

Kurang lebih kedua kalimat itu yang memberikan sentilan untuk refleksi diri kali ini. Sebuah kalimat sederhana yang terlihat dan terdengar sangat menghakimi masa depan seseorang.

Kembali lagi, “The future’s not ours, to see”. Hal ini menegaskan bahwa masa depan itu sendiri bukanlah hal yang dapat kita lihat. Apalagi menghakimi seseorang, khususnya masa depan orang tersebut. Bukan berarti salah, tetapi hal tersebut kurang benar adanya.

Banyak orang yang berpendapat, bahwa orang yang tidak memiliki masa depan adalah orang yang gagal. Orang yang gagal itu sendiri banyak macamnya, drop out dari sekolah, belum berhasil mendapatkan kerja, dan masih banyak lagi. Saya sendiri tidak mengatakan hal itu salah, tetapi menurut saya hal itu belum benar.

Menurut saya sendiri, orang yang gagal atau orang yang tidak memiliki masa depan adalah orang yang mudah menyerahBanyak contoh dari orang-orang yang dulunya dianggap tidak memiliki masa depan, tetapi pada akhirnya mereka lah yang menciptakan masa depan itu sendiri.

Mark Zuckerberg. Bill Gates. Abraham Lincoln. Ludwig Van Beethoven. Thomas Alva Edison.

Mereka berlima merupakan contoh kecil dari sekumpulan orang yang dulunya dianggap gagal. Ya. Saya mengetahui bahwa saya bukan mereka. Tetapi saya ingin menjadi seperti mereka, menjadi aktor diatas panggung perubahan. Bukan penonton yang menikmati perubahan itu.

Inilah saya, seorang pemuda yang tengah berlari untuk menciptakan masa depannya. “Sekali layar terkembang, pantang biduk surut ke pantai“. Hal itulah yang selalu saya pegang dalam kehidupan saya. Hal itulah yang selalu mengalir di dalam darah saya. Sebuah pribahasa Bugis yang berarti pantang menyerah.

Kembali lagi kepada refleksi diri hari ini, “Akan jadi apa saya dimasa depan nanti?